Maaanggaa...Serabi Oncom dari Cigugur...

Kompas.com - 22/12/2008, 10:19 WIB

SIAPA yang tak tahu makanan serabi? Makanan ini bisa dibilang terdapat hampir terdapat di seluruh Nusantara. Serabi, makanan dari tepung beras (ada juga yang dari tepung terigu) dengan rasa manis atau asin, tergantung selera. Masyarakat di Jawa Tengah biasa menyebutnya dengan 'serabi'. Tapi, masyarakat Jawa Barat menamakan makanan yang ueenak itu dengan 'surabi'. Hanya beda sebutan, tapi rasanya tetap sama : ENAK, khas makanan tradisional Indonesia.

Nah, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, punya surabi dengan rasa dan racikan yang lebih kreatif. Surabi oncom!

Oncom memang merupakan makanan khas Jawa Barat. Bagaimana jika diracik menjadi surabi? Meski tak merasakan, mungkin gambaran rasa yang saya gambarkan akan membuat Anda penasaran...

Perayaan Seren Taun 2008 di Cigugur dimanfaatkan masyarakat setempat untuk mengenalkan makanan khas mereka. Di Kompleks Paseban yang merupakan bangunan cagar budaya di kecamatan yang terletak di kaki Gunung Ciremai itu, ibu-ibu menjajakan surabi. Kegiatan ini menjadi agenda tahunan setiap perayaan Seren Taun yang digelar selama 6 hari.

Enam buah tungku disiapkan berikut jajambaran-nya (semacam kuali kecil dari tanah liat, khusus untuk memasak serabi). Rasa yang ditawarkan ada 3 pilihan : manis, asin, dan surabi oncom yang ada sedikit rasa pedasnya. Bisa pilih sesuai selera.

Surabi oncom, bahan pembuatan surabi-nya berupa adonan tepung beras dan kelapa parut. "Supaya kental, ditambah sedikit tepung terigu dan tepung kanji," kata Ella, bidan desa yang mengambil cuti 7 hari demi mengenalkan makanan khas daerahnya pada pengunjung Seren Taun.

Oncom yang telah diorek dibubuhkan setengah sendok makan ke dalam satu sendok sayur adonan yang telah dimasak di jajambaran. Rasanya? Hmmm...yummy! Rasa gurih surabi yang ada adonan kelapanya sangat pas bercampur dengan orek oncom yang sedikit pedas.

Ternyata, adonan surabi oncom ini memang sengaja diracik agar perpaduan rasanya pas dan tak terkesan hanya menambahkan oncom sebab ibu-ibu Cigugur ini membuat adonan yang berbeda untuk surabi dengan rasa manis dan asin. Surabi manis, campuran adonannya terdiri dari tepung terigu, mentega, telur, dan gula, sedangkan surabi asin, adonannya dibuat dengan campuran tepung beras, tepung terigu, dan santan kelapa.

Harga yang dijual relatif murah untuk ukuran perayaan ritual budaya yang sudah menjadi agenda nasional. Surabi oncom dan asin hanya dijual dengan harga Rp 1.000 rupiah per buah. Sementara itu, surabi manis agak lebih mahal, Rp 2.000. Namun, alasan berbedanya harga cukup beralasan karena harga mentega, gula, dan telur yang memang lagi mahal-mahalnya.

So, silakan mencoba jika berkunjung ke Cigugur atau ke kota lain di Jawa Barat, burulah surabi oncom!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau